Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia

Ada postingan dari Bang Fuad nih (sedih banget bacanya) ...

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bunda, sudah aku terima surat darimu tempo hari. Selalu ada harap semoga Bunda juga dalam sehat dan afiat, selalu kuat untuk menjalani rutinitas dan sembah syukur Bunda padaNya.

Aku tak ingat lagi sudah berapa surat yang Bunda kirimkan ke ibukota. Maklumlah Bunda, di sini banjir tak pernah memberi kabar kapan ia akan datang. Sewaktu-waktu bisa membludak seperti sedang merayakan amarahnya pada manusia. Tak tahu siapa yang sedang dimarahinya. Yang pasti, alam tak pernah memilih kepada siapa akibat rusaknya akan tertimpa. Tak peduli hanya segelintir yang berulah, ribuan orang ikut sengsara. Tentu Bunda masih ingat kalau dulu aku pernah bertanya, “Atas nama rahmat atau celakakah, hujan itu turun?” Kau tertawa mendengar itu, Bunda. Dan kau katakan bahwa Rasul pun ikut gelisah saat hujan turun. Kau bercerita tentang Aisyah yang bertanya tentang kegelisahan suaminya. “Aku sangat khawatir hujan itu akan menjadi azab yang menimpa umatku,[1] kata Rasul. “Dan jika Rasul melihat hujan turun, beliau berkata: ‘Hujan adalah rahmat,’” ceritamu.

Setahun lagi, insyaAllah, akan kutunaikan janjiku padamu, Bunda. Menjadi seperti apa yang kau inginkan setelah berlelah-lelah mencari ilmu di ibukota. Betapa tak terasa waktu berlalu. Usiaku juga sudah beranjak dari satu angka ke angka lain. Katamu, aku sudah dewasa. Sudah tak pantas lagi merengek. Aku harus tegar, harus siap menghadapi belantara hidup yang kau sudah lalui lebih dahulu. Tapi, sungguh, aku terkejut saat Bunda bertanya, “Kapankah kau akan menyempurnakan setengah agamamu, Nak?”

Sungguh, aku tak tahu harus menjawabnya seperti apa. Walau sudah aku khatamkan kitab fiqih bab nikah dan menghafal rukun, syarat, hingga talak dan ruju’, pertanyaan itu selalu sulit untuk aku jawab. Aku pikir akan mudah jika memulainya dengan menyusun kriteria. Tapi, sekali lagi, bukankah itu terasa sungguh congkak? Meminta pasangan sesuai apa yang kita mau dan yang kita idam-idamkan, padahal diri ini juga belum pantas mendapat pasangan seindah kriteria yang disusun. Berharap Khadijah-kah, padahal hati masih setengah-setengah untuk meneladani Muhammad? Ah, Bunda. Aku selalu kalap jika membicarakannya.

Untunglah aku tak begitu khawatir pada Bunda. Bunda tak pernah meminta agar pasanganku nanti itu cantik jelita. Aku tersenyum saat Bunda mulai menyebut nama artis ibukota itu di surat. Ah, rasanya Bunda telah teracuni televisi, menonton puluhan infotainment yang wira-wiri dari pagi sampai balik dini hari. J Aku juga tak bisa memahami mengapa ada saja orang yang memproklamirkan hubungannya dengan meriah –meski sekadar pacar cinta monyet. Menikah dengan pesta super mewah, lalu bercerai di tengah perjalanan cintanya dan ribut-ribut harta gono-gini sambil sibuk mengundang pers untuk diekspos besar-besaran.

Dulu aku pernah berpikir betapa nikmatnya jika bisa seganteng mereka. Pastilah beruntung mempunyai wajah tampan. Uang mudah masuk hanya dengan tersenyum. Perempuan mana yang rela kehilangan momen dengannya –meski hanya sedetik. Aku bertambah heran jika teman-teman perempuan di sekolahku dulu menyimpan poster idola mereka, dari yang Indonesia, Cina, Taiwan, sampai Amerika. Bunda tahu apa jawaban mereka saat aku tanya mengapa foto-foto itu disimpannya? Mereka hanya bisa menjawab, “Ganteng, Djoko!” Sudah. Titik. Ada juga yang berteriak-teriak saat artis idola mereka lewat –meski hanya sekadar lewat. Foto-foto. Minta tanda tangan. “Itu yang namanya idola,” kata seseorang menerjemahkan.

Ah, Bunda… Kalaupun itu anugerah, ia harus menjadi pintu syukur, bukan? Tuhan selalu Mahaadil. Jika bersyukur, nikmat itu semakin berlimpah. Jika lupa bersyukur, sungguh Dia akan murka.[2] Dulu aku ingin jadi rupawan seperti mereka. Membeli kosmetik rupa-rupa, menambal wajah hingga tak jelas jadi apa. Ikut tren, istilahnya, Bunda. Toh, banyak abege yang meniru tingkah idolanya tak karuan. Cat rambut warna-warni, pulas pipi kanan-kiri. Rambut di-rebounding, ganti gaya Mohawk, sampai gimbal dan kribo yang rutin bergantian jadi mode. Sekarang rasanya tak enak kalau celana nggak nyingkrik, sempit di ujung kaki sambil dipelorotkan hingga ke bawah pinggul. Kalau pakai baju biasa, dianggap tak ikut mode. Sekarang tren baju kekecilan, yang nge-press dan nyeplak. Aku selalu salah tingkah kalau di belakang mereka. Sekali membungkuk, terlihatlah apa yang seharusnya tak terlihat. Duh, Gusti…

Kalau sekarang banyak yang cerai, kok justru yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng? Aku jadi bingung. Yang ganteng dulu dipuji-puji, yang cantik juga ikut dipuja. Rasanya, siapa yang tak ingin menikah dengan mereka. Aku jadi ingat Bunda sempat bilang, “Bukan cantiknya yang membuat bahagia, tapi akhlaknya.” Maka wajarlah jika aku selalu ingat petuah Bunda yang menyitir sabda Nabi, “Kalau kau ingin menikah lihatlah empat hal: harta bendanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, maka kamu akan beruntung.”[3] Kalau ada keempat-empatnya, siapa yang berani menolak?

Ah, sudahlah, Bunda. Aku bukan tengah memberi celah meratapi nasib wajahku yang tak seberapa indah. Bukan salahku, bukan juga salah Bunda dan Ayah. Toh, setiap manusia telah dilahirkan atas nasibnya masing-masing. Mengapa kita harus berlelah-lelah mengutuk wajah yang jelek dengan mencari ahli bedah plastik terkenal untuk direnovasi? Memancungkan hidung, menghilangkan kerut. Aku heran pada orang yang terlampau takut. Entah apa yang ditakutkannya jika hidungnya pesek atau kerut di keningnya mulai berbaris. Usiakah? Jodohkah? Padahal, jodoh dan kematian telah ditetapkan. Pena-pena telah diangkat dan tinta telah mengering. Yang dibutuhkan manusia adalah jalan menuju keduanya: jalan terbaik. Memilih jodoh dengan jalan yang baik, yang direstui –bukan hanya oleh orangtua, tapi juga oleh Tuhan. Aku heran pada orang yang berganti-ganti pasangan. Entah sebulan sekali, satu semester sekali, atau setahun sekali. Yang satu bilang dengan enteng, “Belum cocok,” seolah pasangannya seperti baju di mal yang sedang dicoba-coba di ruang pas. Yang lain bilang, “Mumpung masih muda. Nikmatin aja.” Masih untung kalau tak bercampur zina. Tapi, rasanya aku tak pernah ingin jika anak gadisku nanti digilir-gilir oleh sekian lelaki yang dengan seenak jidatnya meremas-remas telapak tangan anak gadisku dan membual, “Aku sayang padamu.”

Siapa yang tak khawatir pada kematian? Manusia datang dari ketiadaannya dan akan berakhir menjadi tiada. Toh, hanya Tuhan yang berhak hidup selama-lamanya. Masalahnya, kematian yang mana yang dikhawatirkan? Jika yang dikhawatirkan adalah usia yang menyempit dan tubuh yang semakin rapuh, solusinya bukan dengan membohongi diri. Tentu ada kekhawatiran yang lebih agung seperti Bunda pernah katakan. “Kekhawatiran akan kehidupan yang lebih kekal, lebih abadi.” Itulah kekhawatiran dan ketakutan yang sesunguhnya. Maka, ketika ia datang bersama Izrail, aku selalu berharap apat menutup helai napasku yang terakhir dengan senyum.

Bunda, aku tak sanggup berpanjang lebar lagi dalam surat ini. Kata-kataku telah habis, iramaku telah memudar. Aku tahu mana batasku untuk bercerita. Tapi, aku tak pernah merasa bahwa ini telah cukup untuk membalas suratmu yang luar biasa. Penuh hikmah, penuh pesona. Siapakah yang tak bangga pada Bundanya –pada wanita yang merelakan hidup matinya saat melahirkan, yang menyayangi anaknya dari buaian hingga lahatnya, yang rela kesenangannya terampas demi anak-anaknya. Sungguh tak sanggup aku membalasnya. Hanya Tuhan yang mampu membalasmu, berlipat-lipat melampaui keikhlasanmu yang abadi.

Mudah-mudahan kau tetap sehat di sana, Bunda. Di tempat yang aku juga tak pernah tahu letaknya, tak tahu alamatnya, tak tahu nama jalannya, tak tahu berapa nomor rumahnya. Aku tak tahu, Bunda. Aku tak tahu. Maukah kau beritahukan aku, Bunda?

Wassalam.

Jakarta, Maret 2008.

djokokororet



[1] HR. Muslim. Dari Aisyah ra. Shahih Muslim, No. 1495.

[2] Lihat QS. Ibrahim: 7

[3] HR. Muslim. Dari Abu Hurairah. Shahih Muslim, No 2661.


0 komentar: